Di suatu siang saat jam istirahat kantor, saya ingin ke kantor salah satu Bank Syari’ah untuk sedikit menyisihkan gaji saya. Cuaca Surabaya saat itu begitu membakar setiap pengguna jalan raya. Sebenarnya saya agak malas untuk keluar tapi mau bagaimana lagi, uang ini harus segera di titipkan di bank agar tangan saya tidak gatal dan tergoda untuk menghabiskannya di awal bulan. Saya lajukan motor saya dengan sedikit kencang dengan harapan segera cepat sampai dan bisa menikmati dinginnya AC ruangan bank dengan gratis, he..he…he!
Di satu perempatan yang saya lalui, saya berhenti karena lampu sudah merah.
Aku mencari uang recehan yang mungkin masih ada di saku celana dan mengeluarkannya. “Cuma Rp 500,-“ kataku. Aku bersiap untuk memberikannya. Sebelum aku memberikannya aku terkejut karena ibu yang duduk itu berteriak “eh kamu kalau ngemis itu yang serius, jangan main-main. Lihat wajah orangnya biar kamu di beri” bentaknya dengan logat khas
“Oh orang itu yang jadi ‘penanggung jawabnya’ya !” batin saya setelah mendengar kalau anak itu memanggil si ibu tadi dengan sebutan ibu.. Saya segera memberi anak itu uang Rp 500,- yang telah saya persiapkan dan segera melajukan motor saya kembali karena lampu sudah hijau. Dalam perjalanan, saya tidak habis pikir apa yang di inginkan ibu muda itu. Anak yang begitu lucu bagi saya, anak yang seharusnya bermain dengan gembira di paksa untuk mengemis sedangkan dia hanya duduk-duduk saja. Tidak ada kah jalan lain? Terkadang begitu egoisnya orang tua sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka harus di bebankan anak umur 3 tahun. MEREKA BUKAN MESIN UANG. Mereka amanat yang harus dijaga dan dilindungi. Mereka tidak layak untuk hidup di jalanan yang keras & panas. Saya yang sudah berumur lebih dari 20 tahun saja merasa sangat panas dengan cuaca seperti ini apalagi dengan anak sekecil itu.
Saya memang tidak mengenal si anak dan si ibu tadi, entah ada hubungan apa mereka. Apakah ibu dan anak atau ibu yang menyewa anak? Yang pasti saya tidak setuju dengan cara-cara yang dia gunakan. Inilah gambaran masyarakat kita. Mau ataupun tidak kita harus “menikmatinya”. Diluar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar