Kamis, 11 Desember 2008

Hidup adalah sebuah pilihan. Kita Bebas untuk memilih kemana kita akan melangkah, tapi tak banyak orang yang siap dan bisa untuk memilih.

Sukses is my life, sukses adalah hak saya. Tidak ada satu orang pun yang boleh merebutnya dari pangkuan saya. (Andrie Wongso)

-----------------------------------||------------------------------------------------




SELAMAT DATANG DI APICOMPANY DAN SELAMAT BERGABUNG BERSAMA KAMI


Eko Widodo

Bangkitlah Anak-anak Muda Indonesia

Berilah Aku 7 Pemuda

Berilah aku tujuh pemuda, aku akan ubah dunia.
Kalimat sakti ini keluar dari Pemimpin Revolusi Indonesia, Soekarno,
yang juga Presiden Pertama RI.

Berilah aku tujuh pemuda, menggambarkan format kalimat kedahsyatan
perubahan yang dapat dilakukan oleh orang-orang muda, dalam bidang
apapun, baik itu bidang politik, sosial budaya, maupun ekonomi.

Hari ini kami mengajak Anda, anak-anak muda untuk meningkatkan
entrepreneurship dan daya juang kewirausahaannya. Dan seperti sebuah
pusaran, semakin hari pusaran kesadaran kewirausahaan itu semakin
besar, semakin besar, semakin membanggakan. Kini semua orang semakin
peduli dengan kewirausahaan. Karena disadari atau tidak, kewirausahaan
adalah pintu Indonesia menuju sejahtera.

Pintu masuk bagi kesejahteraan, karena Indonesia memiliki banyak hal
: kekayaan alam dengan aneka bahan baku yang tersedia, sumber daya
manusia yang tidak bodoh-bodoh amat, hingga pasar yang luar biasa besar.

Asal Anda tahu, tahun 2009 pasar domestik Indonesia yang jumlahnya
sangat besar menjadi ajang keroyokan produk dari berbagai negara.

Sebagai bangsa, selama ini kita lalai untuk membangun semangat dan
kesadaran kewirausahaan. Akibatnya mentalitas kita mentalitas yg tidak
memiliki daya juang. Lebih suka mengekspor bahan-bahan mentah ke
negara lain, anehnya kita mengimpor produk-produk jadi yang bahannya
dari negara kita. Pejabat-pejabat kita juga banyak yg anasionalis
dengan membiarkan barang2 impor membanjiri pasar domestik, sengaja
melonggarkan aturan demi keuntungan pribadi, atau bahkan melacurkan
kepentingan negara dan bangsa untuk kesejahteraannya sendiri.

Hari ini ini kita membulatkan tekad untuk menjadi pebisnis yg terus
berjaya melalui komunitas TDA, dengan mengasah, berbagi pengalaman,
sharing. Atau apapun. Gratis.

Selama ini kita kehilangan satu mata rantai yang sangat penting yang
seharusnya tumbuh dan ditumbuhkan. Kita kehilangan kesempatan atau
tepatnya kehilangan kesempatan menjadi pebisnis setara dg teman2
lainnya karena minimnya akses, rendahnya entrepreneurship skill,dan
banyak sebab lainnya. Karenanya kita berhimpun di komunitas TDA untuk
saling belajar.

Kita tidak ingin kewirausahaan bangsa mati suri. Karenanya kita harus
mampu membuat gerakan transformasi bisnis yang enjoy dan
menyenangkan, dengan berkumpul di forum ini. Terutama anda, anak-anak
muda!

Seperti kata Bung Karno, berilah aku tujuh pemuda, aku akan ubah
dunia. Pemudalah yang harus mengambil inisiatif untuk berubah!

Di dunia sana, ada anak-anak muda, berusia belia, mengambil peran bagi
perubahan sejarah dunia. Seperti yang dilansir Business Week di
business online.com, ada 5 anak- anak muda yang memiliki kemampuan
kewirausahaan yang tinggi, dan ia akan menorehkan namanya dalam
sejarah dunia (berdasarkan survey pembaca Business Week).
Mereka adalah, Pertama, Mark Zuckerberg, Pendiri Facebook
(www.facebook. com) dari California, USA. Pada umur 21, semasih menjadi
mahasiswa di Universitas Harvard ia telah membuat social-networking
berbasis internet, Facebook, dengan penghasilan lebih dari US$ 13
juta, dan kekayaannya terus bertambah karenanya.

Kedua, Nancy Montano, California, pendiri usaha pembersih lingkungan
yang murah. Sejak umur 22 tahun, Montano, yang baru lulus perguruan
tinggi melaunching Los Angeles Pumping, Usaha untuk memindahkan
sampah suatu perusahaan. Pendapatan Los Angeles Pumping's meningkat
dari US$25.000 menjadi US$125.000 dalam jangka waktu setahun. Dan
memasuki tahun kedua Montano sudah dapat menikmati pendapatan mencapai
US$1 juta.

Ketiga, Joanna Alberti (www.sophiesphiloso phies.com) , dari Boston,
USA. Saat berumur 21 tahun, begitu lulus dari Universitas Boston,
Joanna Alberti menggambar
karikatur pertamanya, Sophie. Karikatur Sophie ini kemudian
dikembangkan menjadi berbagai produk merchandise dan karikatur yang
memiliki karakter dan trade mark kuat sehingga produknya dibeli oleh
seantero masyarakat Amerika.

Keempat, David Hauser (23) dan Siamak Taghaddos (24). Miliarder yang
masih belia ini mengawali usahanya ketika masih SMA dengan usaha
GotVMail Communications, yaitu usaha yang menawarkan kepada pemilik
usaha skala UKM agar terlihat profesional seperti halnya
perusahaan-perusaha an besar. Jasa yang ditawarkan mulai dari US$10
per bulan/perusahaan dan menawarkan bidang pilihan, mencakup
berbagai voice-mail, panggilan dan email yang disampaikan dalam bentuk
pesan ketelepon MP3. Gotvmail yang didirikannya telah menjadi
perusahaan yang sangat menguntungkan sejak bulan keduannya, dan
pendapatan tahunannya saat ini US$5 juta.

Kelima, Anand Chhatpar (24), Madison, Wisconsin, USA, pendiri
BrainReactions, sebuah lembaga yang secara khusus membuat prototip
berbagai kreativitas bagi para profesional brainstormers untuk
menciptakan inovasi-inovasi baru serta menciptakan produksi-produksi
baru sesuai dengan segmen baru, maupun upaya untuk meningkatan
pelayanan pelanggan.

Berilah aku tujuh pemuda !. Tidak!. Aku (Indonesia) akan memberikan
sejuta pemuda, karena aku (Indonesia) memiliki berjuta-juta pemuda
yang mampu mengubah dunia.

Dan, berkobarlah semangat TDA, Semangat Tangan Diatas. Semangat
memberi, tebarkan karya dan kebaikan. Setelah itu lupakan !.

Isdiyanto

Empati : By Andi F Noya

Smoga bermanfaat,

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Minggu, 09 Maret 2008

Pidato Steve Job Sang Pendiri Apple

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.

Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah.

Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.

Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan" dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.

Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan.

Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?

Mereka menjawab: "Tentu saja."

Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA.

Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.

Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.

Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.

Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik.

Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.

Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya.

Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan.

Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.

Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh:

Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.

Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.

Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.

Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.

Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30.

Dan saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi.

Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.

Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.

Komisaris ternyata berpihak padanya.
Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya - saya gagal mengambil kesempatan.

Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya.

Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley
.

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya.

Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.
Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.

Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas.

Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya.

Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia.

Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.

Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple.

Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.

Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai.

Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.

Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya.

Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya.

Jadi, teruslah mencari sampai ketemu.

Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.

Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada.

Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa.

Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.

Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.

Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.

Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut.

Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor.

Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.

Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:

Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya.

Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.

Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda.

Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.

Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain.

Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda.

Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.

Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.

Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park , dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya.

Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.

Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.

Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda.

Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.

Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh).

Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka.

Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.

Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.

Stay Hungry. Stay Foolish.

(Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di Australia )

Aceh 3 Tahun Yang Lalu, Sekarang & Masa Depan


Kemarin malam saya melihat tayangan Kick Andy di Metro TV(26-12-2007). Dalam tayangan tersebut mengangkat tema tentang bagaimana anak-anak Aceh bertahan hidup dan terus bangkit setelah peristiwa bencana Tsunami di hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 silam. Saya tidak bisa membayangkan, pada hari dimana keluarga bergembira menikmati hari libur, berubah menjadi kepanikan, ketakutan, tangis dan jeritan. Bagaimana tidak setelah diguncang bumi lalu datang air bah dengan derasnya. Yang bisa melarikan diri ya selamat namun yang tidak sempat melarikan diri ……………………

Saat itu Alloh betul-betul menguji kita sebagai manusia. Alloh memperingatkan kita sebagai manusia. Dalam waktu kurang dari 1 jam saja, Alloh menjadikan manusia dalam posisi yang sama. Sama-sama tidak punya apa-apa lagi. Keluarga hilang, harta hilang, apalagi pekerjaan.

Walaupun dari televisi, saya melihat para jenazah korban yang diletakkan dipinggir jalan dan menunggu untuk dikebumikan. Yang membuat saya begitu trenyuh adalah seorang ibu yang menggendong jenazah anaknya yang baru berusia balita. Beliau bercerita kepada seorang reporter salah satu station televisi bahwa beliau sudah beberapa jam menggendong jenazah anaknya tersebut dan tidak tahu akan dikebumikan dimana anaknya itu. Ya Alloh luar biasa sekali peringatan Mu kepada kami.

Sekarang peristiwa itu 3 tahun telah berlalu.Saat ini Aceh dan Masyarakatnya mulai bangkit. Berkat dukungan dari seluruh dunia dan kemauan keras dari masyarakatnya, Aceh mulai menapaki langkah baru. Banyak sekali anak-anak tanpa orang tua dan keluarga berusaha bangkit dan memandang masa depan, walaupun mereka telah mengalami kejadian luar biasa 3 tahun yang lalu. Saya jadi ingat sahabat-sahabat saya di Aceh. Saya memiliki 3 orang sahabat di Aceh, 1 laki-laki yang sering saya panggil abang (karena usianya memang lebih tua dari saya), yang 2 lagi perempuan. Saya begitu kagum pada mereka bertiga. Mereka mampu bangkit walaupun 3 tahun yang lalu betul-betul dalam posisi yang sulit sekali saya bayangkan.

Bang Iskandar Abd.yang berusaha keras setelah semua inventarisnya habis tersapu Tsunami L dan sekarang sudah mulai menuai hasilnya :) , Fitri Murliana Walaupun saya baru beberapa saat mengenal anda semua namun anda semua telah memberi saya pelajaran yang begitu berharga, lebih peduli, lebih bersyukur dan tidak boleh cepat menyerah.

Boleh lah kita sedih tapi jangan sampai itu membuat kita tidak mau melihat masa depan.

Terima kasih teman……..

Mereka Bukan Mesin Uang

Di suatu siang saat jam istirahat kantor, saya ingin ke kantor salah satu Bank Syari’ah untuk sedikit menyisihkan gaji saya. Cuaca Surabaya saat itu begitu membakar setiap pengguna jalan raya. Sebenarnya saya agak malas untuk keluar tapi mau bagaimana lagi, uang ini harus segera di titipkan di bank agar tangan saya tidak gatal dan tergoda untuk menghabiskannya di awal bulan. Saya lajukan motor saya dengan sedikit kencang dengan harapan segera cepat sampai dan bisa menikmati dinginnya AC ruangan bank dengan gratis, he..he…he!

Di satu perempatan yang saya lalui, saya berhenti karena lampu sudah merah. Ada pemandangan yang bagi saya menarik. Menariknya karena sedikit mengganggu hati saya. Ada seorang ibu yang sedang duduk di trotoar perempatan, di tempat teduh ditemani sebotol air minum dan berusaha mencari angin untuk sekedar mengusir hawa panas dengan mengipas-ngipaskan selendang yang biasa untuk menggendong anak kecil. Tidak jauh dari tempat dia duduk ada seorang anak laki-laki kecil, usianya mungkin baru sekitar 3 tahunan. Dengan wajah memelas anak itu menengadahkan tangan ke setiap pengendara motor yang berhenti sejenak, tapi dasar anak-anak sesekali dia bermain dengan berusaha menaiki motor pengendara yang dia mintai uang, namun di “halau” oleh si empunya motor. “Oh rupanya anak ini sedang minta-minta” batinku.

Aku mencari uang recehan yang mungkin masih ada di saku celana dan mengeluarkannya. “Cuma Rp 500,-“ kataku. Aku bersiap untuk memberikannya. Sebelum aku memberikannya aku terkejut karena ibu yang duduk itu berteriak “eh kamu kalau ngemis itu yang serius, jangan main-main. Lihat wajah orangnya biar kamu di beri” bentaknya dengan logat khas Surabaya.

“Oh orang itu yang jadi ‘penanggung jawabnya’ya !” batin saya setelah mendengar kalau anak itu memanggil si ibu tadi dengan sebutan ibu.. Saya segera memberi anak itu uang Rp 500,- yang telah saya persiapkan dan segera melajukan motor saya kembali karena lampu sudah hijau. Dalam perjalanan, saya tidak habis pikir apa yang di inginkan ibu muda itu. Anak yang begitu lucu bagi saya, anak yang seharusnya bermain dengan gembira di paksa untuk mengemis sedangkan dia hanya duduk-duduk saja. Tidak ada kah jalan lain? Terkadang begitu egoisnya orang tua sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka harus di bebankan anak umur 3 tahun. MEREKA BUKAN MESIN UANG. Mereka amanat yang harus dijaga dan dilindungi. Mereka tidak layak untuk hidup di jalanan yang keras & panas. Saya yang sudah berumur lebih dari 20 tahun saja merasa sangat panas dengan cuaca seperti ini apalagi dengan anak sekecil itu.

Saya memang tidak mengenal si anak dan si ibu tadi, entah ada hubungan apa mereka. Apakah ibu dan anak atau ibu yang menyewa anak? Yang pasti saya tidak setuju dengan cara-cara yang dia gunakan. Inilah gambaran masyarakat kita. Mau ataupun tidak kita harus “menikmatinya”. Diluar sana mungkin berjumlah ribuan anak yang harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga, siang malam harus bergelut dengan kehidupan yang keras. Bagaimana kita menyikapinya?